header image

FILOSOFI SHALAT DAN REALITA MASYARAKAT

Posted by: jensmoderat | 3 June 2009 | No Comment |

Bagi sebagian orang terutama mereka yang berada dalam kecukupan materi kehidupan dunia memang terasa sangat menyenangkan, indah dan penuh kebahagiaan, sehingga terasa sangat sulit dan berat bagi mereka untuk sekedar berbagi dengan saudara mereka yang jauh dari kata cukup, mereka risih untuk sedikit saja memberi rasa bahagia pada yang lain, mereka takut ada yang berkurang dari materi mereka. Di samping itu, ternyata kehidupan dunia bisa menjadi cobaan dan ujian bagi mereka yang hidup serba kekurangan, berada dalam garis kemiskinan. Hal itu pun terasa menjadi lebih menyakitkan tatkala mereka secara structural tidak diberi kesempatan untuk bisa lebih baik dan lebih sejahtera. Bagi mereka dunia memang sedimikian sulit dan pedih, meskipun hal tersebut tak pernah mereka harapkan.

Bagi saya potret masyarakat yang demikin itu telah benar-benar nyata dalam kehidupan bangsa ini, disadari atau tidak, secara perlahan tapi pasti masyarakat bangsa ini mulai mengarah pada fenomena demikian. Hal ini merupakan sebuah indikasi bahwa bangsa kita sudah terasing dan teralienasi dari budaya, karakter dan jati diri bangsa yang sebenarnya. Di awal kemerdekaan bangsa ini kita masih lekat dengan budaya gotong royong dalam berbagai sendi kehidupan, tapi kini budaya gotong royong seolah hanya wacana tanpa realita dan kata tanpa makna. Secara perlahan bangsa ini mulai menempuh dan memperagakan budaya individualisme sebagai biasdari kapitalisme. Jika dulu sebelum bangsa kita bersentuhan dengan budaya asing, kata dan budaya gotong royong begitu lekat dengan keseharian bangsa ini, bangsa ini memiliki rasa simpati, empati, senasib dan sepenanggungan. Akan tetapi saat ini, ketika kita mengamati kehidupan bangsa ini maka yang kita temukan hanya gerak hilir mudiknya manusia yang egois, individualis dan tak memiliki rasa peduli pada sesama. Sehingga bagi mereka yang menaiki kendaraan mewah dan nyaman tak pernah tersentuh ketika berpapasan dengan ratusan anak jalanan yang mengais rejeki hanya untuk makan dari belas kasih manusia yang masih punya nurani. Saya yakin sebenarnya mereka pun tidak ingin berada di jalan-jalan raya ketika terik matahari begitu menyengat, saya mereka pun ingin berada dalam keteduhan, saya yakin mereka tidak mau kedinginan karena guyuran hujan, tapi nasib telah memaksa mereka demikian, karena mereka tak pernah diberi kesempatan.

Tak hanya kehidupan sosial yang teralienasi dan terasingkan dari budaya gotong royong, tapi juga kehidupan politik kita. Dewasa ini, perpolitikan di negeri sudah semakin kotor, jauh dari kata dan budaya gotong royong, politik hanya sekedar alat dan sarana untuk mengumbar nafsu dan syahwat kekuasaan, sehingga tak jarang kita menemukan fenomena orang yang bersedekah, memberi santunan pada rakyat kecil hanya untuk jabatan dan kekuasaan.

Dalam kehidupan perekonomian pun tak jauh beda, system dan pola ekonomi bangsa kita sudah sangat jauh dari kata dan budaya gotong royong. Ekonomi bagi mereka hanya sebatas bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dan bagaimana meningkatkan kesejahteraan pribadi dan keluarga. Bagi mereka orang kecil dan miskin bukan tanggungan dan kewajiban bagi mereka untuk menyantuninya. Sehingga dewasa ini kita menemukan fenomena perusahaan bernama koperasi rakyat tapi dalam prakteknya tak jauh beda dengan rentenir. Hal demikian sejujurnya merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa bangsa ini sudah semakin jauh dari karakter, budaya dan jati diri bangsa yang sebenarnya.

Sebagai seorang santri yang sedang menimba ilmu di pesantren, saya semakin prihatin dan sedih tatkala fenomena demikian ternyata menimpa umat islam, karena mayoritas bangsa ini adalah umat islam. Jika demikian adanya maka umat islam di Indonesia hanya sekedar nama dan kuantitas tanpa prestasi dan kualitas. Mereka mangaku beragama islam tapi prilaku dan sikap mereka begitu jauh dari ajaran islam.

Sebenarnya beberapa abad yang lalu sebelum Karl Marx mengembangkan konsep sosialisme, islam telah lebih mengajarkan pada umatnya untuk tidak sekedar soleh secara personal tapi juga soleh secara sosial. Islam yang dibangun di atas lima konsep dasar, yaitu : Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa dan Haji sebenarnya mengajarkan pada pemeluknya untuk tidak hanya bergelut dengan dimensi ilahiyah (ketuhanan) tapi juga bergelut dalam dimensi Insaniyah (kemanusiaan). Salah satu konsep islam yang mengajarkan dimensi iahiyah dan insaniyah adalah shalat.

Bagi saya shalat yang sering diartikan sebagai “do’a” (etimologi) dan “perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam” (terminologi) sejatinya memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi. Salam yang merupakan gerakan terakhir dalam ritual shalat sebenarnya memiki filosofis yang sangat tinggi. Salam sendiri berarti keselamatan, hal ini merupakan indikasi bahwa seorang muslim harus senantiasa menebarkan keselamatan dan kesejahteraan. Adapun gerakan menengok ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan salam sebenarnya mengajarkan bahwa keselamatan dan kesejahteraan tidak hanya untuk pribadi tapi juga harus ditebarkan pada lingkungan sosial. Di sinilah shalat mengajarkan konsep kepeduliaan sosial, sehingga ketika seseorang telah selesai dari shalat sebenarnya ia di tuntut untuk menegakkan ajaran dan filosofis shalat dalam keseharian. Sehingga dalam al-Qur’an perintah shalat tidak diiringi dengan “mengerjakan” tapi “mendirikan”. Disamping itu, dalam Islam perintah shalat selalu digandengkan dengan perintah Zakat yang bernuansa sosial, hal ini membuktikan bahwa kesalehan individual harus selalu beriringan dengan kesalehan sosial.

under: Publik, Sosial-Politik, Tasawuf dan Filsafat
Tags: ,

BAHASA POLITIK NEGERI INI

Posted by: jensmoderat | 3 June 2009 | No Comment |

Sejujurnya tulisan ini hanya merupakan sebuah jeritan atau suara hati seorang anak desa yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian suasana perkotaan. Tulisan ini lahir di sebuah pedesaan yang sangat sederhana, jauh dari kemegahan dan kemewahan dunia, maka sangat wajar jika tulisan ini begitu lugas, mudah difahami tidak seperti tulisan dan bahasa politikus bangsa ini yang semakin hari semakin sulit dimengerti. Diakui atau tidak, bahasa politik di negeri ini semakin sulit difahami, rumit dan enjelimet. Hal itu mungkin disebabkan karena bahasa politik di negeri ini tidak lagi menjadi bahasa sosial tapi sudah berubah menjadi bahasa individual, bahasa politik sudah berubah menjadi bahasa ambisi dan tidak lagi menjadi bahasa nurani. Sudah sedimikan jauhkah politik di negeri ini dari etika dan nurani?.

Kurang lebih seminggu yang lalu kita baru saja selesai melaksanakan pemilu tahap pertama (pemilu legislatif) dengan menghabiskan dana yang sangat besar, jumlahnya tidak hanya jutaan, tapi milyaran bahkan tak menutup kemungkinan mencapai triliyunan rupiah. Dengan demikian secara ekonomis pemilu legislatif 2009 patut disebut sebagai sebuah party (pesta). Tapi benarkah pesta tersebut adalah pesta rakyat dan pesta demokrasi atau hanya sekedar pesta pejabat dan pesta ambisi?.

Menurut pengamatan saya pribadi sebagai seorang manusia yang lemah, pemilu legislatif 2009 masih jauh dari kata pesta rakyat dan demokrasi, akan tetapi lebih mendekati pada pesta pejabat dan pesta ambisi. Kesimpulan saya ini setidaknya didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya:

Pertama, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap caleg yang ikut pada pemilu 2009 harus rela mengorbankan materi untuk menarik simpati masa, bahakan tak jarang diantara mereka ada yang menjalankan money politik (politik uang). Menurut pengakuan seorang tim sukses di kabupaten Tasikmalaya, caleg yang ia usung telah mengeluarkan uang sekitar 1 milyar rupiah.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya kenyataan demikian merupakan sebuah fakta bahwa di masyarakat kita dewasa ini yang sedang belajar berdemokrasi money politik masih tetap dijalankan oleh sebagian pihak. Jika dalam setiap pemilu hal ini selalu terjadi dan ada maka tak mustahil demokrasi yang telah menjadi cita-cita bangsa hanya akan menjadi mimpi yang tak pernah bisa menjelma. Disamping itu, politik uang merupakan sebuah fakta bahwa mereka yang ingin menjadi wakil rakyat di parlemen adalah orang yang ambisius terhadap jabatan. Maka tidak heran jika mereka yang telah berkorban banyak dengan menjalankan money politik ketika sukses terpilih menjadi wakil rakyat baik di daerah maupun di pusat, yang pertama kali mereka pikirkan adalah adalah bagaimana supaya modal yang telah mereka keluarkan bisa kembali, bila hal itu tidak dapat terpenuhi dengan gajih murni, maka mereka mulai berpikir untuk korupsi. Dari sinilah politik balas dendam mulai dijalankan.

Maka tidak heran jika setiap periode selalu ada anggota DPR baik daerah maupun pusat yang menjadi terpidana kasus korupsi. Selain itu, fakta tersebut menunjukan bahwa politik di negeri ini sudah semakin tak ramah, jauh dari nurani dan kepentingan rakyat, politik lebih dekat dan layak disebut pada ambisi dan kekuasaan.

Hal demikian sebenarnya pernah diwanti-wanti oleh Rasulullah saw melalui salah satu sabdanya “Janganlah kalian memberikan jabatan pada seseorang yang memintanya (berambisi)”. Sabda Rasulullah yang berbentuk larangan tersebut sejatinya merupakan perintah agar kita melakukan tindakan prefentif (pencegahan) terhadap terjadinya penyalah gunaan jabatan, sehingga beliau melarang kita memberikan jabatan pada seseorang yang memintanya.

Kedua, hasil pemilu legislatif sekarang telah menyebabkan beberapa orang caleg yang kalah mengalami gangguan kejiwaan, bahkan ada yang nekad melakukan bunuh diri. Menurut hemat saya hal itu merupakan fakta bahwa mereka yang selama ini mati-matian ingin mendapat suara terbanyak didasari oleh ambisi untuk menjadi seorang pejabat yang berkuasa. Maka tidak heran jika pemilu di negeri ini selalu melahirkan para penguasa bukan pemimpin. Sehingga kebijakannya pun lebih mencerminkan egoisme dan arogansinya pemerintah, jauh dari keberpihakan pada rakyat. Dengan demikian pemilu selalu menjadi pesta untuk berebut kekuasaan dan giliran memangsa bukan mengabdi atau memperjuangkan nasib rakyat.

Dengan berdasarkan analisis di atas sejatinya kita harus selalu waspada mengontrol kinerja para anggota dewan yang terpilih, jangan sampai mereka yang terpilih karena uang bebas menjalankan politik balas dendam. Kesuksesan sebuah pemilu tidak hanya diukur secara administratif tapi juga diukur dari kualitas mereka yang terpilih. Selain itu kita jangan terlalu bergembira dengan lancarnya pemilu tahap pertama ini, karena bisa jadi justru kita salah memilih dan bangsa ini menjadi terancam.

under: Publik, Sosial-Politik
Tags: , ,

Kampanye Sebuah Tarian di Atas Penderitaan

Posted by: jensmoderat | 20 March 2009 | 2 Comments |

Buya Ahmad SyafiMa’arif dalam bukunya yang berjudul “Tuhan Menyapa Kita” mengutip sebuah puisi anak Sekolah Dasar (SD) di Jawa Tengah, begini bunyi puisi tersebut :

RAKYAT KECIL

Pasti kecil orangnya,

karena kurang gizi,

pasti kecil dapat duitnya,

pasti kecil tempat tinggalnya,

pasti kecil keinginannya,

pasti kecil bohongnya,

pasti besar imannya,

dan besar di mata Tuhan.

Beda dengan pembesar,

pasti besar orangnya,

pasti besar dapat duitnya,

pasti besar rumahnya,

pasti besar keinginannya,

pasti besar bajunya,

pasti besar bohongnya,

pasti kecil imannya,

dan kecil di mata Tuhan.

Dan aku lapar sekali.

Bagi saya pribadi, puisi tersebut terasa sangat menyentuh nurani, karena memang semua kata-katanya adalah suara sanubari rakyat jelata yang hampir saja tak terdengar oleh siapa pun juga. Selain itu, puisi tersebut merupakan sebuah pandangan seorang anak kecil tentang fakta adanya paradoks di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di satu sisi sebagian masyarakat Indonesia merasakan penderitaan, kesedihan dan kemiskinan. Sementara di sisi lain sebagian masyarakat negeri ini sangat senang, bahagia dan sejahtera, seakan mereka hidup dalam nirvana. Indonesia ternyata bisa menjadi surga sekaligus neraka bagi rakyatnya. Surga bagi kalangan elite dan neraka bagi kalangan bawah.

Kalau boleh jujur, sebenarnya paradoks yang demikian telah benar-benar nyata dalam kehidupan kita. Hari ini, ketika sebagian elite politik bahagia dalam menyongsong pemilihan umum (pemilu) 2009, mereka mengawali masa kampanye terbuka dengan sosialisasi visi dan misi masing-masing, mereka menawarkan janji-janji manis bagi rakyat kalangan bawah agar mereka terpilih oleh rakyat dan dapat meraih suara terbanyak, ternyata sebagian rakyat kecil tidak measakan kebahagiaan sama sekali, mereka sibuk dengan kemiskinan dan bencana alam yang menimpanya, sehingga bagi mereka masa kampanye tak lebih dari “tarian di atas penderitaan”.

Cobalah sejenak kita lirik mereka yang menjadi korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, di saat masa kampanye baru saja dimulai, justru mereka berbondong-bondong datang ke Jakarta menuntut sisa ganti rugi 80 persen lagi, seolah mereka tak peduli dengan masa kampanye dan pesta demokrasi yang akan terjadi.

Atau tengoklah mereka yang saat ini menjadi korban banjir di Kendari, mereka sibuk menyalamatkan nyawa sendiri dan keluarganya masing-masing, mereka sibuk meninabobokan bayinya yang sedikit demi sedikit di serang penyakit seraya berharap ada sedikit bantuan dari mereka yang bisa mendengar suara nurani kaum jelata. Ternyata sedikit pun mereka tak merasakan ada pesta di negeri ini.

Di sadari atau tidak, keadaan demikian sebenarnya semakin mengurangi kepercayaan masyarakat bawah terhadap elite di negeri ini, bahkan tak mustahil masyarakat kecil semakin merasakan sakit hati atas perilaku sebagian penguasa negeri ini. Ada semacam rasa kecewa dalam hati rakyat kecil yang pada akhirnya berimplikasi pada melonjaknya persentase Golput pada pemilu 2009. Bagi mereka Golput adalah sebuah pilihan sekaligus sebagai protes kaum yang tak berdaya dan teraniaya atas ketimpangan sosial di negeri ini.

Di tengah-tengah sebagian masyarakat yang sedang dilanda kesedihan, sebenarnya kampanye para caleg yang hanya bertujuan mendapat simpati dengan sosialisasi visi dan misi terasa hambar dan kurang relevan, terasa kurang manusiawi. Sejatinya jika mereka memang benar punya perhatian terhadap nasib rakyat kecil seharusnya mereka merealisasikan visi dan misi tersebut tidak hanya mengumbar janji manis. Apakah untuk berbuat baik pada kalangan bawah mesti menjadi penguasa terlebih dahulu?.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa kampanye dalam pemilu menghabiskan dana yang sangat besar, jumlahnya tidak hanya ribuan rupiah. Mayoritas partai politik mungkin memiliki dana kampanye yang sangat besar jumlahnya bisa mencapai triliunan rupiah. Aneh sekali untuk ambisi pribadi dan golongan mereka mau berkorban tapi untuk membantu rakyat kecil mereka seolah tak punya kuasa apa-apa. Ironis sekali.

Akan tetapi hal tersebut hanya akan menjadi harapan kosong belaka, jika kaum elite tidak mau sedikit mengaktualisasikannya. Hal ini sebenarnya bisa diawali dengan sedikit mengesampingkan ego pribadi atau semacam penekanan ke-aku-an, sehingga mereka tidak lagi mempertututkan hawa nafsu dan keinginannya masing-masing untuk berkuasa dan memimpin Negara. Hal demikian sebenarnya telah diajarkan dalam tasawuf yang disebut dengan konsep fana.

Jika keadaan kaum elite tidak berusaha mendengar sayup-sayup suara nurani rakyat, maka bisa diprediksi bahwa pemilu 2009 akan gagal dan angka Golput semakin bertambah besar. Karena pada dasarnya rakyat pun tak mau memiliki pemimpin yang tidak dapat menangkap aspirasi atau lebih jauh tidak memiliki nurani. Manusia yang tak memiliki nurani sebenarnya tak jauh beda dengan binatang ternak. Demikian al-Qur’an mengatakan “Mereka seperti binatang ternak bahkan lebih parah lagi”. Sebodoh apa pun rakyat kecil mereka tetap saja tak mau bila harus dipimpin kalangan kambing, kerbau dan lain-lain.

under: Publik, Sosial-Politik
Tags: , ,

Fenomena Dosa Mulkiyah dan Nasib Bangsa

Posted by: jensmoderat | 19 March 2009 | No Comment |

Sebagai seorang anak bangsa wajar bila saya menaruh perhatian besar terhadap kelangsungan dan nasib ibu pertiwi. Hari demi hari bagi saya adalah kekhawatiran, kesedihan dan kegalauan. Sudah tidak terbayang lagi penderitaan rakyat kecil di negeri ini. Negeri yang katanya bagai nirwana, ternyata hanya isapan jempol belaka. Bagi bi Minah, seorang janda tua di desa saya Indonesia tak cukup indah apalagi dikatakan nirwana. Indonesia mungkin benar adalah nirwana, tapi bukan untuk rakyat jelata tapi untuk pejabat dan konglomerat. Kekayaan alam Indonesia ternyata tidak menjadikan rakyat sejahtera, tapi justru sebaliknya, kekayaan alam Indonesia malah menyiksa rakyat Indonesia. Tengoklah mereka yang ada di sekitar tambang mas di pulau Timika, mereka tidak cukup bahagia, karena justru kekayaan alam mereka dikeruk pihak asing. Rasanya sulit bagi rakyat kecil untuk bisa tersenyum.

Keadaan Indonesia yang sedemikian rumit dan mengkhawatirkan, mengingatkan saya pada perkataan ibu saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu ketika saya berniat untuk menimba ilmu di pesantren Sukamanah, ibu saya berkata “Nak, belajarlah dengan baik supaya jadi orang”. Sebuah ucapan yang singkat, sederhana tapi sarat makna. Bagi saya pribadi, ucapan tersebut bukan hanya sekadar nasehat seorang bunda pada anaknya tapi juga harapan seorang warga Negara di tengah-tengah kondisi bangsa yang mengkhawatirkan.

Sejujurnya diakui atau tidak, di tengah-tengah kondisi bangsa saat ini, kita nyaris kehilangan yang namanya “orang” (manusia sejati) seperti yang dikatakan ibu saya. Hari ini, yang kita temukan bukanlah orang (manusia sejati) akan tetapi makhluk dengan wujud manusia yang secara moral dan spiritual telah mengalami evolusi. Sebagian dari mereka ada yang berevolusi menjadi kambing dan serigala, sebagian yang lain ada yang berevolusi menjadi syetan bahkan ada pula yang berevolusi menjadi tuhan. Maka pantas, jika hari demi hari bangsa ini tak pernah lekang dari masalah, dari mulai masalah banjir, korupsi, pembunuhan, kemiskinan dan lain sebaginya, karena mayoritas penduduk negeri ini sudah tidak lagi menjadi orang, tapi makhluk hasil evolusi.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam salah satu magnum opusnya al-Da’u wa al-Dawa’ menyatakan bahwa dosa yang dilakukan manusia bersumber dari empat hal, diantaranya adalah dosa Mulkiyah yaitu perbuatan atau sifat manusia yang mengadopsi sifat atau perbuatan yang menjadi privasi Tuhan. Seperti sombong, semena-mena dan merasa diri paling suci atau segalanya dibanding yang lain.

Menurut hemat saya, konsep dosa mulkiyah sedikit banyak mengindikasikan bahwa manusia tak mustahil berevolusi jadi tuhan, dalam artian mempertuhan dirinya sendiri. Fenomena sebagian masyarakat Indonesia saat ini adalah salah bukti nyata manusia berevolusi menjadi tuhan. Hal ini setidaknya diwakili oleh kalangan pejabat dan birokrasi pemerintahan.

Kebijakan pemerintah saat ini lebih terkesan merupakan bentuk lain dari arogansi dan kesemena-menaan kaum elite. Kebijakan mereka kerap kali disinyalir tidak berpihak pada rakyat. Kenaikan BBM contohnya, yang cenderung membebani rakyat kecil dan secara tegas ditolak oleh mayoritas masyarakat tetap mereka lakukan dengan berbagai macam dalih. Aspirasi rakyat tidak lagi diperhatikan, masyarakat hanya bisa pasrah dalam keadaan demikian. Anehnya lagi mereka yang menyetujui kebijakan pemerintah (dalam hal ini DPR) meminta dinaikkan gaji dan kesejahteraannya, seolah mereka tidak mau mengenyam penderitaan sejenak seperti rakyat kecil. sementara ketika pemerintah menurunkan kembali harga BBM tidak pernah terdengar suara atau kabar bahwa DPR meminta turun gaji. ironis sekali. Ditengah penderitaan rakyat justru mereka mementingkan kesejahteraan pribadi dan keluarganya, seolah mereka malu merasakan sejenak saja apa yang dirasakan oleh rakyat kecil. Sudah sedemikian parahkah kaum elite di negeri ini?

Sementara itu, kebijakan pemerintah di beberapa daerah seperti kebijakan pembenahan kota kerap kali berujung menjadi kesedihan rakyat jelata. Penggusuran para pedagang kaki lima dan peraziaan anak-anak jalanan, tidak pernah dilakukan secara serius. Mereka hanya menertibkan tetapi tidak pernah memberikan solusi bagi rakyat. Sehingga dengan terpaksa mereka kembali menjadi anak jalanan demi mempertahankan hidup. Terlalu riskan memang di zaman seperti menggantungkan nasib pada belas kasih penguasa.

Kaum elite hari ini lebih cenderung memperbesar egonya masing-masing, mereka semakin arogan dan angkuh, seolah mereka yang paling berkuasa. Sehingga sebutan pemimpin tidak layak lagi mereka sandang, mereka lebih layak disebut penguasa. Pada saat demikianlah sebenarnya mereka terjebak dalam bentuk dosa mulkiyah (mempertuhankan ego pribadi), yang merupakan bentuk lain dari kemusyrikan dan pada saat itulah mereka berubah menjadi tuhan gadungan yang sangat arogan.

Di pihak lain, fenomena dosa mulkiyah semakin membuat saya khatir dan prihatin. Di saat bangsa ini akan menyongsong pesta demokrasi. Saya khawatir justru rakyat akan kembali salah pilih, rakyat akan kembali menjadi korban dari manusia-manusia yang arogan yang tak lagi mempunyai nurani, tapi tuhan yang semena-mena yang tak pernah memiliki belas kasih. Dan kondisi demikian selalu menyebabkan nurani saya berkata “mampukah Indonesia bertahan”.

under: Publik, Sosial-Politik, Tasawuf dan Filsafat
Tags: ,

TUHAN TERLANTAR “Sebuah Catatan Pengajian”

Posted by: jensmoderat | 25 February 2009 | No Comment |

Sebelumnya saya minta ma’af yang sebesar-besarnya, jika dengan tulisan ini dianggap kurang sopan, atau setidaknya judul tulisan ini dianggap pemikiran liberal dan kurang sopan. Mungkin pembaca beranggapan bahwa ini adalah sensasi belaka, semoga Allah swt mengampuni kesalahan kita dalam mengapresiasi karya orang lain. Sejujurnya saya akui judul tulisan ini bisa mengundang banyak kontroversial, tapi setidaknya sesuatu yang kontroversial biasanya menarik banyak perhatian. Mungkin tulisan ini hanya merupakan sebuah pandangan seorang anak manusia yang begitu ringkih, yang dalam keringkihan dan ketidak berdayaannya mencoba untuk mengkritik realitas sosial. Karena seperti yang diajarkan oleh dosen filsafat saya, ajaran dari wahyu pertama itu adalah ajaran untuk melakukan kritik sosial. Perintah membaca pada Nabi saw (Iqra’), sebenarnya bukan perintah dalam artian membaca tulisan, tapi membaca realitas sosial jahiliah pada saat itu. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, pertama, Nabi itu seorang yang ummi maka tidak mungkin perintah membaca tulisan bisa dilaksanakan oleh Nabi, kedua, Malaikat Jibril turun membawa wahyu tidak disertai dengan membawa lembaran-lembaran yang berisi tulisan.

Sejujurnya, terlalu kuat hasrat saya kali ini untuk menulis, sehingga dengan begitu saja dan dengan mudah terlahir beberapa goresan tinta. Anehnya lagi, sekarang-sekarang ini saya ingin menulis tema tentang spiritual kata kaum cendekiawan, atau tema kajian sufi kata teman-teman santri. Mungkin karena tema kesufian (tasawuf) sendiri sering diwacanakan bahkan tak jarang para kiai memperdebatkannya, padahal sejatinya tasawuf itu rasa bukan logika yang seharusnya dihayati, direnungkan dan dilaksanakan bukan dijadikan bahan perdebatan. Sudah begitu jauhkah kita terasing dari salah satu sisi kemanusiaan kita (sisi ruhaniah), sehingga tema-tema spiritual kita jidikan tema fisikal, atau mungkin karena cara keberagamaan kita yang memang cenderung berangkat dari hal-hal yang bersifat lahiriah (syari’at) menuju hal-hal yang batiniah (ma’rifat). Padahal kalau kita perhatikan Nabi Muhammad saw itu mengawali keberagamaannya dari hal-hal yang ma’rifat menuju syari’at. Hal ini terbukti melalui peristiwa isra’ mi’raj, Nabi bertemu Allah terlebih dahulu (ma’rifat) dan setelah itu Nabi diperintahkan untuk shalat (syari’at). Tapi biarlah demikian, karena saya tidak hendak mengajukan sebuah thesis dengan mengharapkan adanya antithesis supaya terbentuk sebuah sintesis.

Hari itu, kebetulan saya mengikuti sebuah pengajian di marhalah Mutaqadimah, mengaji kitab Fiqh as-Sunnah magnum opusnya Sayyid Sabiq, asal Mesir, yang konon menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz merupakan salah satu kitab fiqh terbaik. Tema pengajian saat itu adalah Iyadah al-Maridh (menjenguk orang sakit) halaman 246 jilid I. Ketika sampai pada hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, kontan kesadaran saya tersentak seolah baru siuman, ada semacam getaran rasa tersendiri. Saya sendiri kurang begitu tahu perasaan teman-teman saat itu, karena memang pak kiai menjelaskan hadits tersebut sebatas tinjauan fiqhtasawuf), mungkin karena memang sedang mengaji kitab fiqh bukan tasawuf.

Kira-kira begini terjemahan hadits tersebut, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pada hari kiamat kelak berfirman “Wahai manusia Aku sakit tetapi kamu tidak pernah menjenguk Ku”. Manusia berkata “Wahai Tuhan ku, bagaimana mungkin aku munjenguk Mu, sementara Engkau adalah Tuhan semesta Alam”. Allah menjawab “Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya hamba Ku si Fulan sakit sementara kamu tidak pernah menjenguknya, tidak tahukah kamu bahwasannya jika kamu menjenguknya niscaya kamu akan menemukan Ku dissiinya”. Terus demikian sampai Allah mempertanyakan kepada manusia kenapa tidak pernah memberinya makan dan minum tatkala Allah memintanya, dan terus begitu jawaban manusia. Kontan saat itu darah saya berdesir dengan cepat dan bulu kuduk pun terasa merinding. Tidak terbayang sama sekali, kalau saya ditegur oleh Allah di hari kiamat dengan teguran demikian, sulit sekali menggambarkannya.

Bagi saya hadits di atas seakan mengajarkan sebuah kearifan, kepedulian, kesalehan sosial dan kesadarn religius. Setiap hari sudah tak terhitung berapa banyak hamba Allah yang sakit tapi justru kita biarkan, berapa banyak hamba Allah yang mengemis demi sesuap nasi dan seteguk air tapi justru kita abaikan. Kita cenderung menutup mata dari dari realitas-realitas kehidupan sosial, kita terlalu asyik dan terlena dengan keindahan dunia yang sementara. Mungkin kita melihatnya, mendengarnya, tapi hati kita diam seribu bahasa, tak bergeming sedikit pun, tak terketuk sama sekali. Mungkin hati kita telah menjadi buta, tuli dan bisu serta lebih keras dari batu. Kita anggap itu takdir mereka dalam kehidupan dunia, itu perkara nasib baik atau buruk yang tak ada hubungannya sama sekali dengan kita. Kita anggap itu fenomena kehidupan, kita annggap itu sebagai hal yang wajar dan lumrah dalam kehidupan. Sunggguh kedunguan yang luar biasa, semoga Allah swt mengampuni kita.

Hari ini budaya individualisme dan golonganisme sudah semakin merebak, tidak hanya di perkotaan tapi juga di sebagian pelosok pedesaan. Sebuah evolusi sosial dan moral di negeri kita tercinta. Sehingga ketika ada tetangga yang sakit, baik sakit secara fisik atau ekonomi, kita tidak tergugah untuk menjenguknya, seolah bukan sebuah kewajiban, kita biarkan dan kita terlantarkan, kita egois dan kita apatis. Kita anggap mereka bukan kerabat kita, bukan family kita, mereka bukan golongan kita dan yang lebih na kita anggap mereka beda partai dengan kita. Padahal saat itulah kita dituntut untuk memperhatikan mereka, karena Tuhan pun sakit ketika hambanya sakit, tapi justru malah kita biarkan dan kita terlantarkan.

Di negeri ini ada banyak hamba Allah yang terabaikan dan teraniaya, bahkan pemerintah pun tak lagi peduli dengan nasib mereka. Bahkan kerap kali ketika kita naik sebuah bus kota atau kendaraan umum lainnya, kita menemukan diantara saudara-saudara kita yang sedang mengamen dan mengemis, mengais rezeki yang tidak seberapa demi sesuap nasi dan seteguk air putih. Tapi apa yang kita lakukan saat itu? Tak jarang sebagian di antara kita malah mengutuknya serta memakinya, kita anggap mereka sebagai bagian dari orang yang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan tak berwajah, karena mereka sering mengemis. Kita posisikan mereka sebagai bagian dari para pendosa yang nista, kotor dan menjijikan, yang tidak secara langsung memposisikan diri kita sebagai manusia yang paling saleh, paling suci dan paling baik amalnya. Atau ada di antara kita yang mau berbagi sedikit rezeki dengan mereka, kita beri mereka uang recehan (ada yang 100, 500 atau paling gade 1000 rupiah), sembari menganggap bahwa itu adalah bagian dari amal saleh, padahal nurani kita menyatakan bahwa kita pun merasa malu memilki barang yang demikian. Maka tidak aneh, jika di zaman sekarang banyak orang yang bersedekah dengan sejumlah uang recehan, pakaian bekas dan makanan sisa, sembari beranggapan itulah amal shalih. Padahal Islam mengajarkan agar kita berderma dengan sesuatu yang terbaik dan masih kita cintai, bukan dengan sesuatu yang serba sisa yang, tidak secara langsung tanpa disadari menjadikan orang lain tak jauh beda dengan wadah sampah.

Tidak dapat kita sangkal, bahwa penduduk negeri ini sudah semakin tersibukkan dengan urusannya masing-masing. Orang kaya (kaum borjuis) terlalu sibuk mengurusi uangnya, menghitung kekayaan dan aset perusahaannya sembari terus meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga dan golongan. Mereka terjebak dalam gaya hidup yang glamour, hedonis, individualis tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk berbagi dengan si miskin di pinggir jalan atau si gelandangan di kolong jembatan. Adapun di pihak lain, para pejabat, pemerintah dan elite politik tersibukkan oleh masalah jabatan, pangkat dan kedudukan, padahal seharusnya mereka berjuang untuk rakyat di negeri ini, mereka seharusnya menjadi pelayan masyarakat, tetapi nyatanya mereka tidak pernah mau jadi pelayan, selalu ingin dilayani dan dihormati oleh rakyat. Sungguh seorang pelayan yang tidak tahu diri, melakukan kudeta dan menjadikan diri sebagai raja. Maka tidak heran jika masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak pernah terpecahkan, dari tahun ke tahun jumlahnya bukan semakin berkurang malah makin bertambah. Padahal sudah banyak sarjana yang mendapatkan berbagai penghargaan karena kemiskinan, karena pengemis dan karena mereka yang jadi gelandangan. Sungguh ironi, semuanya hanya wacana belaka. Di samping itu, ada juga kelompok yang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat di parlemen, mereka melakukan kampanye dengan yang tidak sehat, bukan karena melanggar aturan, tapi karena modelnya yang kampungan dan murahan. Mereka membuat spanduk, kaos dan kalender dengan poster dan jargon masing-masing ditanbah lagi dengan janji manis yang selalu jadi pil pahit bagi rakyat. Padahal kalau kita boleh jujur, rakyat kita saat ini, terutama kaum miskin tidak membutuhkan spanduk, kalender dan janji-janji manis, akan tetapi mereka lebih membutuhkan uluran tangan kita, bantuan, perhatian dan santunan. Mereka butuh lapangan kerja, mereka butuh sesuap nasi untuk menyambung kehidupan. Alangkah baiknya jika dana kampanye setiap caleg dialihkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga demi kesejahteraan rakyat jelata, dikumpulkan dan dihimpun oleh lembaga tertentu dan disalurkan kepada mereka yang selalu mempertanyakan “besok makan apa”, bukan pada mereka yang berkata “besok makan siapa”.

Sementara itu di pihak lain, sebagian kaum elite agama (kiai atau ulama) selalu sibuk dengan ibadah-ibadah ritual yang sifatnya individual. Mereka terlalu asyik dan khusyuk dalam shalat dan munajatnya, sehingga umat pun terlantar dan terabaikan. Mereka tenggelam dalam ibadah-ibadah ritual formal dan mengurusi hal-hal yang bersifat lahiri semata. Mereka hanya bisa berbicara masalah shalat dan zakat tanpa disertai usaha penanaman nilai-nilai moral shalat dan spiritualitas beragama pada masyarakat. Mereka hanya mengajarkan konsef sabar dan pasrah pada orang-orang miskin, tapi tidak pernah mau berbagi. Padahal jika kita perhatikan sebagian dari mereka termasuk kalangan mampu dan berada, tapi ternyata hedonisme dan kesenangan dunia menjebaknya. Sebagian mereka hanya mampu mengutuk orang-orangyang tidak shalat berjama’ah, melalaikan shalat dari waktu yang semestinya, dan mencap orang yang demikian sebagia kaum yang mendustakan agama. Sejatinya dalam pandangan Dr. Nurcholish Madjid, orang yang mendustakan agama bukan orang yang tidak melakukan shalat berjama’ah atau orang yang melalaikan shalat dari waktunya, karena yang demikian jelas diampuni, apalagi ketika kondisi memaksa mereka berbuat demikian. Justru yang mendustakan agama adalah mereka yang berpaling adari nilai-nilai moral dan spiritual dalam shalat, shalat mereka hanya sebatas lahiri belaka tidak sampai pada tataran batini (penghayatan ritual keagamaan). Sehingga kesalehan mereka hanya bersifat individual belaka dan tidak sampai pada tahap kesalehan sosial.

Agama kita ini adalah Islam yang artinya penyelamatan, bukan salam yang artinya keselamatan. Dari segi penamaanya ada nuansa tersendiri dan ada semacam tuntunan untuk bergerak keluar menjadi penyelamat. Karena itu dalam firman Allah kita dapati bahwa Allah mencintai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bukan hasinin (orang-orang yang baik). Dalam sabda Nabi saw pun kita temukan ungkapan yang senada dengan itu “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi bukan seberapa banyak yang kita lakukan untuk diri kita, tapi seberapa banyak yang dapat kita lakukan dan kita berikan bagi orang lain, meskipun substansinya tetap untuk kita.

Sungguh malang nasib rakyat kecil, mereka makin tergusur dan terasingkan dari percaturan dunia saat ini. Mereka adalah tanggungan kita sebagi orang yang mampu. Karena itu jenguklah mereka ketika sakit, berilah mereka makan dan minum tatkala lapar dan dahaga. Berikan yang terbaik dan bukan sisa, karena pada saat itulah Tuhan sakit, dan meminta makan dan minum pada kita.

Sekarang tidak terketukkah hati kita?

under: Sosial-Politik, Tasawuf dan Filsafat
Tags: , ,

Sejauh yang saya ketahui, setiap akhir bulan Februari, dalam setiap surat kabar -paling tidak sebagian besar- yang beredar di daerah Jawa Barat, terutama di daerah priangan timur, selalu dimuat artikel tentang perjuangan KH. Zainal Musthafa Sukamanah. Kebanyakan dari artikel tersebut hanya mengulas sekitar riwayat hidup KH. Zainal Musthafa atau paling jauh hanya membahas tentang lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan KH. Zainal Musthafa. Hal ini dapat dimaklumi karena memang mayoritas penulisnya adalah alumnus dari lembaga pendidikan tersebut. Menurut hemat saya, selaku orang masih menimba ilmu di Pesantren Perguruan KH. Zainal Musthafa (Pesantren Sukamanah), tulisan yang hanya menyajikan ulasan tentang riwayat hidup atau lembaga pendidikan KH. Zainal Musthafa dengan mengabaikan nilai-nilai yang ada di dalamnya terasa sangat hambar dan hampa. Di tengah-tengah kondisi masyarakat dewasa ini, yang sebagian besar sedang mengalami krisis figur dan kepercayaan serta degradasi moral dan spiritual, bukan ulasan sejarah yang mereka butuhkan, akan tetapi ajaran moral dari sejarah tersebut, yang sering saya sebut sbagain “ajaran hidup dan kehidupan”.

Bagi mayoritas warga Tasikmalaya, nama KH. Zainal Musthafa sudah sangat lekat dengan kehidupan mereka, karena paling tidak mereka mengenalnya sebagai sebuah nama jalan di pusat kota Tasikmalaya, atau nama sebuah monumen perjuangan, dan mungkin juga mereka mengenalnya sebagai sebuah nama yayasan pendidikan di desa Sukarapih-Sukarame. Di samping itu ada juga yang mengenalnya sebagai sebagai sosok seorang ulama kharismatik sekaligus sebagai seorang pahlawan Nasional. Ironis sekali apabila kita hanya mengenal KH. Zainal Musthafa hanya sebatas nama dan sejarah dan tidak sampai pada nilai-nilai yang terkandung dalam sosok dan sejarah tokoh tersebut. Diakui atau tidak, hal ini merupakan tanda kegagalan kita dalam memahami dan mempelajari sejarah. Sehingga bagi kita, sejarah hanya seolah cerita di masa dulu (lawas), hanya sebatas dongeng, kenangan dan hanya sebatas saksi bisu.

Biasanya setiap tanggal 25 Februari, di Tasikmalaya terutama di kabupaten, selalu diadakan acara peringatan perjuanga KH. Zainal Musthafa. Bahkan pemerintah daerah sendiri dalam hal ini Bupati dan jajarannya selalu melakukan upacara penghormatan di Taman Pahlawan KH. Zainal Musthafa Sukamanah. Di pesantren Sukamanah sendiri acara peringatan perjuangan KH. Zainal Musthafa selalu di isi dengan ritus tertentu yang biasa disebut dengan “Napak Tilas”, disamping acara yang lainnya. Napak Tilas sendiri merupakan kegiatan menempuh rute atau mengunjungi tempat (pesantren) yang pernah ditempati oleh KH. Zainal Musthafa. Akan tetapi, seperti yang saya katakan tadi, memperingati perjuangan KH. Zainal Musthafa hanya sebatas ritual dan ceremonial dengan mengabaikan nilai-nilai moral yang ada di dalamnya adalah pertanda kegagalan kita dalam memaknai, mempelajari dan memahami sejarah bangsa. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, saya tidak akan banyak membicarakan sejarah KH. Zainal Musthafa, akan tetapi saya akan memfokuskan tulisan ini terhadap nilai-nilai moral yang tersirat dalam sejarah dan kepribadian KH. Zainal Musthafa.

Setidaknya ada dua sisi yang cukup menonjol dari sosok KH. Zainal Mushtafa. Pertama, KH. Zainal Musthafa sebagai seorang ulama panutan umat, dan kedua, KH Zainal Musthafa sebagi seorang pahlawan (pejuang). Biasanya kedua sisi ini sering membuat orang yang membaca biografinya merasa kagum.

Kita mengenal KH. Zainal Misthafa sebagai seorang ulama karena memang secara intelektual beliau mumpuni dalam bidang agama (islam). Bahkan beliau sendiri adalah pendiri sekaligus pimpinan Pesantren Sukamanah yang pernah menimba ilmu dari beberapa pesantren. Di Tasikmalaya saja beliau pernah belajar di beberapa pesantren, di antaranya : pesantren Gunung Pari (selama 7 tahun), pesantren Cilenga (selama4 tahun) dan pesantren Jamais (selama 1 tahun). Bahkan beliau pernah belajar di pesantren Sukaraja Garut (selama 3 tahun) dan pesantren Sukamiskin Bandung (selama 3 tahun). Maka tidak aneh jika beliau sangat terkenal sebagai seorang yang fakar dalam bidang Tafsir al-Qur’an. Atau setidaknya kita mengenal beliau sebagai seorang ulama karena ada embel-embel kiai di depan namanya, yang memang pada saat ini digunakan untuk merujuk pada seseorang yang ahli dalam bidang agama islam (ulama).

Sejatinya kata kiai sendiri berasal dari Bahasa Jawa, saya pribadi tidak tahu tentang makna asli dari kata ini, akan tetapi bila merujuk pada penggunaannya kata ini dipergunakan oleh orang Jawa selaku pemilik asli istilah ini untuk menunjukkan pada sesuatu yang dihormati, dikramatkan dan disakralkan. Seperti halnya kiai sekati yang merupakan nama gamelan yang dipergunakan dalam ritual sekaten di Jogjakarta. Sebenarnya ulama disebut kiai memiliki landasan tersendiri di antaranya, pertama, seorang ulama adalah orang yang memiliki rasa takut pada Allah atau religiusitas yang tinggi, dan kedua, karena ulama adalah pewaris para Nabi, sehingga dalam masyarakat pedesaan ulama menjadi rujukan dalam segala hal, bahkan ada yang meyakininya sebagai manusia yang memiliki daya mistis dan magis tersendiri sehingga masyarakat menghargai, menghormati atau menganggapnya sakral.

Akan tetapi manakala peran kiai (ulama) ditelusuri di zaman ini, umat nyaris kehilangan panutan. Peran ulama sangat tidak terdeteksi. Hal ini disebabkan karea beberapa faktor. Pertama, ulama lebih dekat pada penguasa ketimbang pada rakyat (umat) dan cenderung kooperatif terhadap rezim yang korup dan tiranik. Hari ini ulama tidak lebih dari sekadar alat legitimasi kekuasaa dan stempel kepentingan penguasa yang zalim, padahal ulama seharusnya menjadi penjaga umat seperti halnya para Nabi. Kalau boleh diumpamakan -mengutip sebuah sya’ir berbahasa Arab- ulama itu ibarat seorang penggembala yang menjaga gembalaannya dari serangan serigala, dan umat ini adalah gembalaanya. Tapi bagaimana jika penggembala tersebut hakikatnya adalah serigala?. Saya merasa ngeri dan tak kuasa membayangkannya jika ulama yang kita miliki saat ini tak lebih dari serigala berbulu domba. Umat hanya dijadikan santapan dan korban untuk kepentingan pribadi. Kedua, ulama cenderung bersikap apatis dan cuex terhadap kondisi sosial dan politik di masayrakat, mereka lebih senang berdiam diri meskipun umat mengalami berbagai keprihatinan. Hari ini mereka cenderung menutup mata atas realitas di sekelilingnya, mereka bungkam terhadap kezaliman penguasa, bahkan mereka lebih senang bergelut dengan kepentingan pribadinya. Nurani mereka menjadi bisu dan seakan telah berubah menjadi zhulmani (hati yang gelap).

Tanpa disadari, fakta demikian telah menunjukkan kebenaran tesis al-Ghazalai tentang adanya dua tipikal ulama, yaitu ulama akhirat (ulama yang baik) dan ulama su’ (ulama yang jahat). Selain itu realitas demikian telah menyebabkan istilah ulama dan kiai telah hilang nuansa sakralnya dan berkurang gregetnya. Ulama dan kiai hanya sekedar bahasa atau istilah yang hampa dari makna. Bahkan sabda Nabi saw yang menyatakan “Ulama adalah pewaris para Nabi” seakan sudah kehilangan konteks dan nuansa sakralnya. Maka tidak mengherankan jika sebagian dari mereka teralienasi dan termarginalkan dari lingkungannya, bahkan peran mereka telah diambil alih oleh kaum cendekiawan. Sangat disayangkan bila ulama saat ini lebih banyak bergaul dan para penguasa dan cenderung menjauh dari umat. Hubungan antara ulama dan penguasa terlihat sangat akrab seolah ada hubungan perselingkuhan romantis diantara mereka. Jika keadaannya terus berlanjut seperti itu, maka bisa dikatakan bahwa memang sudah terjadi sebuah pengkhianatan kaum elite agama Indonesia terhadap umat. Maka peringatan perjuangan KH. Zainal Musthafa saat ini seharusnya bisa mengetuk hati nurani ulama sehingga mereka bisa lebih dekat dan kembali pada umat, atau paling tidak bisa mengobati rasa dahaga umat akan kehadiran sosok ulama panutan.

Disamping itu, dalam sejarah kita menemukan sebuah kenyataan bahwa KH. Zainal Musthafa adalah seorang aktor kunci dalam peristiwa heroik di Sukamanah pada tanggal 25 Februari 1944. Pada saat itu KH. Zainal Musthafa beserta para santri dan pengikutnya melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Jepang yang menamakan dirinya sebagai Pembela Asia. Bahkan KH. Zainal Musthafa secara tegas dan lantang menolak praktek seikerei yang dalam pandangan beliau merupakan bentuk lain dari kemusyrikan dan kekafiran dan bertentangan dengan konsef Tauhid dalam Islam. Sebelumnya, pada masa kolonialisme Belanda KH. Zainal Musthafa sangat mengutuk praktek penjajahan, sehingga sudah sangat sering beliau keluar masuk penjara. Sementara itu, pada masa penjajahan Jepang beliau tidak hanya dipenjara, akan tetapi menerima hukuman mati. Sebuah kisah sangat mengagumkan sekaligus mengharukan.

Bagi kita sendiri dalam kondisi saat ini, pahlawan seolah tak jauh beda dengan pendekar, mereka hanya hidup di negeri dongeng, dan hanya ada dalam imajinasi manusia, mereka tidak pernah benar-benar nyata dalam kehidupan dunia. Hal ini, disebabkan karena bangsa kita sedang mengalami kelangkaan para pahlawan, mereka seakan tidak akan pernah hadir di zaman sekarang. Wanita di negeri seolah mandul secara massal untuk melahirkan seorang pahlawan. Padahal kita tahu, bahwa bangsa ini didirikan di atas tulang belulang dan genangan darah para pahlawan.

Ada satu hal yang harus kita cermati, dari sikap KH. Zainal Musthafa yaitu, sikap oposan (oposisi) terhadap kolonialisme. Sikap oposan bias diartikan sebagai sikap dengan mengambil posisi saling berhadapan, berseberangan dan bertentangan. Akan tetapi bukan hanya sekedar berlawanan, Sikap oposan KH. Zainal Musthafa adalah sikap oposan yang berorientasi pada kepentingan umat. Dalam hal ini oposan merupakan semacam aktualisasi dari konsef Amar Maruf Nahy Munkar (memerintah pada kebaikan dan menjegah kemunkaran). Sehingga bukan seperti oposisi ulama kita saat ini yang lebih berorientasi pada kepentingan kelompok dan partai politik. Sebenarnya sikap oposan yang berorientasi pada kepentingan kelompok tertentu kerap kali berseberangan dengan ajaran Islam, serta lebih menonjol subjektivismenya dan menggusur objektivisme.

Dengan demikian, menurut hemat saya, ulama sebaiknya menjauhkan diri dari percaturan politik dan partai, bukan tidak boleh, akan tetapi hal tersebut hanya akan menambah beban dan kegelisahan rakyat (umat). Mereka gamang dan bimbang, karena mereka tidak lagi mempunyai panutan (figur) yang dapat dijadikan rujukan dan pengaduan. Sungguh malang nasib umat ini, bila mereka tak lagi memiliki ulama panutan dan pahlawan yang dijadikan teladan. Semoga dengan moment peringatan perjuangan KH. Zainal Musthafa sekarang bisa terus memupuk harapan kita akan kehadiran sang pujaan. Karena selain harapan apa lagi yang bisa membuat kita mampu bertahan hidup dalam kondisi seperti ini. Dan di sisi lain, semoga nurani para ulama terketuk untuk kembali pada umat dan membenahi diri masing-masing.

under: Sosial-Politik, biografi dan tokoh
Tags: , ,

LANDASAN TEORI MARXISME

Posted by: jensmoderat | 9 February 2009 | No Comment |

Sejak kemunculannya, Marxisme menggeser teori sosialisme awal yang dinilai sebagai doktrin sosialisme utopis menjadi sosialisme ilmiah (scientific socialism) dengan mengajukan beberapa proposisi sebagai dasar gerakan sosialisme. Setidaknya terdapat tiga proposisi fundamental yang mempengaruhi jalan pikiran Karl Marx yaitu teori Alienasi, teori nilai, dan teori tentang materialisme sejarah. Beberapa pokok pikiran tersebut diletakkan sebagai dasar berpijak bagi Karl Marx dalam mengkonstruksi teorinya.

  • Alienasi

Salah satu ide pokok yang membangun ide Marxisme adalah konsep alienasi. Alienasi merupakan sebentuk hubungan dimana individu terasing dari dirinya. Seorang buruh dideskripsikan sebagaimana barang yang dijual. Ia telah menjual tenaga, keahlian, dan waktunya kepada para pemilik modal atau majikan. Ia menjual sebagian hidupnya untuk orang lain yang menguasai buruh, hingga buruh tidak lagi punya arti diri sebagaimana manusia seutuhnya.

Dalam teori alienasi Marx memberikan penjelasan mengenai efek alienasi terhadap pekerja dalam sistem Kapitalisme. Dikatakan bahwa orang yang bekerja dalam sistem Kapitalisme sama sekali tidak memiliki apa-apa -baik mesin maupun bahan baku- yang digunakan dalamkerja mereka. Semuanya dimiliki oleh kapitalis, dimana para pekerja menjual “tenaga buruh” mereka, atau kemampuan kerjanya untuk mendapatkan sedikit uang. Sistem buruh ini menampilkan empat hubungan yang meletakkan inti teori alienasi Marx. pertama, pekerja teralienasi dari aktivitas produksinya dan tidak memainkan peran sedikit pun menentukan apa yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan. Kedua, pekerja teralienasi dari produk hasil aktivitas mereka karena tidak memiliki kontrol terhadap apa yang dibuat dan akan jadi apa barang-barang itu. ketiga, pekerja teralienasi dari manusia yang lain karena dengan kompetisi dan penyeragaman telah menjauhkan mereka dari kerjasama. Terakhir, mereka teralienasi dari potensi diri beraneka ragam yang tersimpan dalam kediriannya sebagai manusia.

Hubungan tersebut mengakibatkan menurunnya karakteristik individu, kelemahan secara fisik, kebingungan mental kehilangan arah terisolasi dan pembusukan daya kekuatannya sebagai makhluk sosial. Pemisahan buruh dengan hasil kerjanya mengakibatkan keterikatannya dengan orang lain (kapitalis) seolah-olah hidup dan matinya ditentukan oleh orang lain, ia akhirnya akan kehilangan kontrol dan pengetahuan mengenai dunia luar…………… ntar disambung oke.

under: Sosial-Politik, Tasawuf dan Filsafat
Tags: , ,

TUHAN MENYAPA KITA (Resensi)

Posted by: jensmoderat | 9 February 2009 | No Comment |

Judul Buku : Tuhan Menyapa Kita

Penulis : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit : Grapindo

Halaman : 277

RAKYAT KECIL

Pasti kecil orangnya,

karena kurang gizi,

pasti kecil dapat duitnya,

pasti kecil tempat tinggalnya,

pasti kecil keinginannya,

pasti kecil bohongnya,

pasti besar imannya,

dan besar di mata Tuhan.

Beda dengan pembesar,

pasti besar orangnya,

pasti besar dapat duitnya,

pasti besar rumahnya,

pasti besar keinginannya,

pasti besar bajunya,

pasti besar bohongnya,

pasti kecil imannya,

dan kecil di mata Tuhan.

Dan aku lapar sekali.

Itulah puisi anak kelas lima SD inpres di Jawa tengah yang dikutip oleh Ahmad Syafii dalam bukunya ini. Cukup menggelitik memang, tapi di manakah nurani kita? Di manakah keislaman kita? kenapa kita diam?

Selama beberapa dekade, Indonesia dikenal sebagai Negara Muslim terbesar di dunia. Merujuk pada sensus penduduktahun 2000 lalu, ada sekitar 87,55 persen dari 200 juta penduduk Indonesia adalah Muslim. Sejauh ini, kondisi itu belum berubah, meskipun agama lain mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan ajaran dan pengikutnya masing-masing. Hal ini membuktikan bahwa metode yang digunakan Islam untuk mewujudkan tujuantidaklah beretentangan dengan konstitusi dan aturan negara lainnya.

Dalam perkembangannya, Islam di Indonesia memiliki dua wajah dan karakteristik. pertama, Islam yang berkarakter radikal, keras dan menginginkan pembentukan negara Islam, sehingga kadangkala bahkan tak jarang hal ini menjadi problem kemanusiaan, seperti halnya aksi bom bunuh diri. Disadari atau tidak, bom bunuh diri dengan dalih Jihad atau meninggikan Kalimat Allah adalah bentuk lain dari kegiatan mereka yang hanya berani mati tapi tidak berani hidup. Justru dengan demikian menambah buruk citra Islam yang asalnya Rahmah lil Alamin, tapi nyatanya tak lebih dari preman berjubah. Kedua, Islam moderat, Islam yang berkarakter terbuka tapi tegas. Islam seperti inilah yang diharapkan mampu mengatasi masalah kemanusiaan, Islam yang mampu membawa bangsa ini keluar dari kemelut yang berkepanjangan. Islam yang mampu menggugah nurani yang bisu dan akal sehat yang buntu dan persepsi yang keliru.

Sebenarnya bangsa ini tidak henti-hentinya ditimpa masalah, ditimpa kemalangan, sehingga nyaris bangsa ini seperti kapal yang akan pecah karena dihantam gulungan ombak lautan. Dalam nada sedihnya penulis buku ini mengatakan “Sungguh malang nasib bangsa ini, dia dibunuh secara pelan-pelan oleh anak-anaknya sendiri. Yang lumpuh adalah akal sehat, yang lumpuh adalah nurani”. Atau seperti Emmerson dalam buku Indonesia Beyond Soeharto yang bertanya “Mampukah Indonesia bertahan?”.

Buku ini mencoba menyajikan masalah-masalah keindonesiaan, mulai dari masalah pungli (pungutan liar), kemiskinan, korupsi sampai pada masalah pengkhianatan kaum intelektual Indonesia. Buku ini adalah suatu usaha dari Intelektual tua yang terus berusaha untuk menyadarkan nurani dan akal sehat bangsanya. Bahkan dalam nada mirisnya ia berkata bahkan Iblis pun telah minta pensiun muda, karena takut tergoda oleh Manusia.

SUDAH SEDEMIKIAN PARAHKAH MORALITAS BANGSA INI…..???

under: Resensi buku
Tags: , ,

PSIKOLOGI KEMATIAN (Resensi)”

Posted by: jensmoderat | 7 February 2009 | No Comment |

Judul Buku : Psikologi Kematian

Penulis : Komaruddin Hidayat

Penerbit : Hikmah, Mizan

Halaman : 171

Kematian adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Mungkin itulah pemahaman yang mendasar dalam diri kita. Pemahaman ini kerap kali mendorong manusia untuk menghindari hal-hal yang dapat mengahantarkan menuju pintu kematian, bahkan tak jarang di antara mereka ada yang menginginkan keabadian, seperti halnya manusia pertama, Adam dan Hawa yang mengharapkan keabadian dengan mendekati Syajararah al-Khuldi (pohon keabadian). Dipihak lain, kematian justru telah menyebabkan terlahirnya manusia-manusia pesimis di satu sisi, dan manusia-manusia optimis di sisi lain. Atau paling tidak, kematian telah menyebabkan terlahirnya dua mazhab dalam psikologi kematian, yaitu mazhab religius yang memandang adanya keabadian setelah mati, dan mazhab sekuler yang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Kedua mazhab ini meskipun memiliki kedudukan yang oposisional akan tetapi memiliki satu kesamaan, karena masing-masing dari pengikut mazhab ini selalu berusaha untuk melakukan usaha-usaha semisal heroisme demi kebermaknaan hidup.

Kematian kerap kali menjadikan masalah kemanusiaan, ia dianggap sebagai sesuatu yang misteriustapi pasti, padahal justru kematian dan kehidupan bila keduanya secara insten dihayati niscaya akan melahirkan semacam kesadaran transendental bahwa setiap hari adalah harikematian dan juga kelahiran (kehidupan). Kematian adalah sesuatu yang dekat karena ia adalah kepastian dan keniscayaan. kepastian terhadap punahnya eksistensi kehidupan manusia, mendorong manusia untuk terus berusaha demi mencapai kebermaknaan hidup, sehingga ia bisa dikenang dalam sejarah manusia, atau paling tidak mempunyai nilai bagi keluarganya. Hal ini, disadari atau tidak, menyebabkan manusia untuk terus berusaha mengembangkan potensi dirinya seperti melalui migration exodus (hijrah). Perkataan seorang arif menjadi cermin dalam hal ini, “Biarkanlah orang tertawa ketika engkau keluar dari rahim ibumu dan memulai kehidupan ini dengan jeritan tangis, tetapi buatlah mereka menangis sedangkan engkau tertawa ketika engkaumengakhiri hidupmu di dunia ini, tatkala ajal menjemputmu”.

Kematian sering kali menjadi momok bagi sebagian manusia, tapi memang kematian menyimpan rahasia besar dalam dirinya, karena kesadaran terhadap adanya kematian yang begitu dekat mampu mempengaruhi tingkah laku manusia sedemikian rupa, seperti fenomena mati suri yang mampu membuat perubahan dalam diri dan tingkah laku yang mengalaminya.

Pada hakikatnya kematian adalah jalan menuju kesempurnaan, dengan kata lain kematian adalah jalan dari kenisbian menuju kesempurnaan hidup. Seperti halnya Ayam yang harus mninggalkan telur, dengan cara menetas agar menjadi Ayam yang sempurna. Karena itu, kematian jangan terlalu ditakuti, sehingga menimbulkan rasa pesimis dalam hidup, karena seperti kata Schopenhauer “Mengantuk itu nyaman, tapi mati lebih nyaman, dan yang lebih nyamandari segala yang nyaman adalah ketiadaan hidup”. Akan tetapi kematian, harus membuat kita menjadi lebih optimis dalam hidup, karena seperti kata Socrates “Ketika aku meniliti rahasia kehidupan ku temukan maut, dan ketika ku temukan maut ku temukan sesudahnya kehidupan abadi. Karena itu kita harus prihatin dengan kehidupan dan bergembira dengan kematian, karena kita hidup untuk mati dan mati untuk hidup”.

under: Resensi buku
Tags: ,

HAFLAH MUHARRAMIYYAH “Antara Pesan dan Kesan”

Posted by: jensmoderat | 3 February 2009 | No Comment |

Setiap jenak episode kehidupan selalu menyisakan kenangan dalam memori anak manusia. Kenangan tersebut biasa dikenal dengan istilah kesan, karena itu kesan merupakan sebuah keniscayaan dalamkehidupan. Akan tetapi, di pihak lain, setiap jenak episode kehidupan pun selalu disertai dengan pelajarn dan pesan kebermaknaan serta kearifan yang lazim kita sebut pesan atau saya sering menyebutnya sebagai ajaran hidup dan kehidupan. Dengan demikian tidak terlalu berlebihan bila saya katakan “selalu ada pesan dan kesan dari setiap jenak episode kehidupan manusia”.

Sebuah kesan biasanya lebih berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi eksoteris (lahiri), karena kesan merupakan sekumpulan data yang terrekam dalan memori anak manusia yang masuk melalui penglihatan mata, pendengaran telinga serta penciuman hidung. Karena itu, sebuah kesan mudah sekali didapatkan. Sementara di sisi lain pesan yang merupakan sisi lain dari sebuah plot kehidupan manusia lebih dan terkait dengan hal-hal yang berdimensi esoteris (batini), karena itu sebuah pesan sangat sulit untuk ditangkap, atau kadang pesan itu dapat ditangkap tapi sudah tidak utuh. Kalau boleh diumpamakan, kesan itu bak jasad yang kasat mata, yang bisa disentuh, diraba dan dilihat oleh indera, sementara pesan itu bak ruh yang tak tampak dan terjangkau oleh indera. Jika memang benar perumpamaannya demikian, maka kita bisa menarik sebuah kesimpulan atau setidaknya hipotesa (dugaan sementara) bahwa antara pesan dan kesan itu memiliki hubungan atau keterikatan yang erat, dan memang sebuah pesan biasanya diambil dari kesan dengan melalui tahap kontemplasi atau perenungan.

Seperti halnya sebuah even yang baru saja dilaksanakan oleh insan pesantren KH. Zainal Musthafa Sukamanah Tasikmalaya, yakni sebuah acara yang yang diadakan dalam rangka menyambut tahun baru Islam (1 Muharram 1430 H) yang dikemas dalam nama Haflah Muharramiyyah dan mengambil tema “La Tata’akhkhar Qabla an Tujarrib” (Pantang Mengatakan Tidak Sebelum Mencoba). Merupakan sebuah keniscayaan, bila acara ini meninggalkan kesan yang sangat kuat dalam memori santri Sukamanah, akan tetapi kesan hanyalah kesan, hanya kenangan. Ia hanya akan berharga dan menjadi pelajaran jika kita renungkan dan pikirkan, sehingga makna dari sebuah kesan atau ajaran hidup dan kehidupan dapat kita tangkap. Dengan demikian tidak hanya kesan yang didapatkan, akan tetapi juga pesan.

Selama kurang lebih dua minggu insan pesantren Sukamanah berpacu, berlomba, dan berkreasi untuk berprestasi. Tak hanya waktu yang mereka luangkan akan tetapi juga tenaga dan pikiran. Di sini mereka benar-benar berjuang dan ingin terlahir sebagai manusia yang mengukir sejarah. Itulah kesan dari even tersebut. Menurut saya kesan tersebut sebenarnya mengandung sebuah pesan kehidupan yang sangat mendalam, jika kita sejenak saja mau merenungkannya. Dan tak mustahil alur perubahan kita diawali dari sini.

Perjuangan dan kesungguhan yang dilakukan insan pesantren Sukamanah memiliki hubungan yang sangat erat dengan nilai yang terkandung dalam peristiwa Hijrahnya Nabi Muhammmad Saw dari Makkah ke Madinah. Hijrah merupakan sebuah perjuangan bagi kaum Muslimin pada saat itu, terlebih lagi bagi mereka Kaum Muhajirin. Mereka berjuang untuk kebebasan dari penindasan dan kesewenang-wenangan kaum Kafir Quraisy, sehingga tak hanya tenaga, pikiran dan harta yang mereka korbankan, akan tetapi juga jiwa dan raga. Mereka rela melakukan hal itu, karena mereka berharap akan adanya sebuah kebebasan. Dengan demikian peristiwa Hijrah mengindikasikan adanya usaha pembebasan diri dari hal-hal keduniaan, baik itu harta, kelurga dll. Maka dengan Haflah MUharramiyyah jangan dimaknai hanya sebatas kesan tapi juga harus sampai pada pesan moral yang menjadi ajaran hidup dan kehidupan bahwa even tersebut meruoakan aktualisasi dari insan pesantren Sukamanah untuk membebaskan diri dari kebodohan, kemalasan dan kesia-siaan. Seperti halnya kaum Muhajirin yang ingin dan berusaha terbebas dari hal-hal yang bersifat keduniaan.

Dengan demikian saya secara pribadi berharap bahwa kegiatan tersebut bisa menjadi awal perubahan bagi insan pesantren Sukamanah. Sehingga bisa terbebas dari kebodohan dan dunia yang sering menipu daya.

under: Sosial-Politik
Tags: ,

Older Posts »

Categories